Bagi masyarakat pengendali hama,
pengenalan, biologi dan perilaku (etologi) rayap merupakan
pengetahuan esensial, sedangkan bagi masyarakat umum hal ini di samping
bermanfaat sebagai penambah pengetahuan untuk menghindari kerugian ekonomis
yang ditimbulkan oleh oleh kerusakan terhadap bangunan habitat gucimaspratama.co.idpemukimannya,
karena dengan demikian dapat dilakukan tindakan atau perlakuan khusus untuk
mengendalikan hama perusak kayu ini.
Kepustakaan mengenai rayap sudah ada
sejak akhir abad ke-19, tetapi terutama berkembang selama abad ke-20. Di antara
peneliti dan penulis penting yang memberikan keterangan menyeluruh adalah :
Kofoid (1946) dan Krishna dan Weesner (1970). Masyarakat
umum juga sudah memaklumi bahwa rayap adalah serangga yang merugikan karena
merusak (makan) kayu. Ini tergambar dalam pepata lama : "bak kayu dimakan
rayap" yang mengungkapkan kehancuran, kelemahan atau deteriorasi --
atau -- "anai-anai makan di bawah" -- mengungkapkan proses kerusakan
yang tak tampak atau tersembunyi. Kedua ungkapan ini diambil dari aspek-aspek
biologi dan perilaku rayap yaitu: rayap makan kayu dan hidupnya (habitat dan
proses makannya) tersembunyi (kriptobiotik).
Di seluruh dunia jenis-jenis rayap yang
telah dikenal (dideskripsikan dan diberi nama) ada sekitar 2000 spesies (dari
padanya sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di negara kita dari
kurang lebih 200 spesies yang dikenal baru sekitar 20 spesies yang diketahui
berperan sebagai hama perusak kayu serta hama hutan/pertanian.
Apa yang dikemukakan selanjutnya, belum
menggambarkan keseluruhan peri kehidupan dan perilaku rayap, karena untuk
menulisnya secara memadai mungkin diperlukan dua jilid buku yang tebalnya
masing-masing sekitar 600 halaman, sebagaimana suntingan Krishna dan Weesner.
Perilaku rayap sebagai serangga sosial saja jika akan dijelaskan secara
menyeluruh memerlukan pembahasan yang panjang lebar dari berbagai segi seperti
perilaku makan, membuat sarang dan liang kembara, penyerangan, komunikasi,
peran feromon dalam perkembangan (ontogenesis) dan aspek-aspek perilaku lainnya
yang dalam banyak hal agak berbeda dari serangga-serangga sosial lainnya.
Derajat kemiripan dalam bentuk dan perilaku di antara jenis-jenis rayap juga
menimbulkan banyak masalah dalam taksonomi rayap. Keadaan ini menyebabkan
beberapa kasus penamaan ganda, karena tak jarang terjadi sejenis rayap yang
telah didekripsi seorang pengarang ternyata spesies yang persangkutan
telah diberi nama sebelumnya oleh pengarang lain. Dalam banyak hal, para
pengarang/pakar taksonomi mengandalkan pada ukuran badan yang ternyata
manfaatnya sangat terbatas, demikian pula jumlah ruas antena (misalnya: Cryptotermes
javanicus Kemner, C. buiterzorgi
Kalshoven dan C. cynocephalus Light).
Sumber: Biology and
Ethology of Termites oleh Rudy C Tarumingkeng, PhD, Guru Besar IPB, Juli 2001

Tidak ada komentar:
Posting Komentar